Langsung ke konten utama

Pertama Kali Mendaki (Pt. 1)

Hey-ho!!!

Tudey I wanna share the journey of my very first hiking experience. 
Tulisan ini akan terbagi jadi 3 bagian. Bagian pertama nyeritain tentang persiapan sebelum hiking, dan bagian kedua dan ketiga pas mulai hiking.

Isi post ini, gue jamin, bakal ada banyak banget keluhan, umpatan, dan rasa gembira.

DON'T TELL ME I DIDN'T WARN YA!




Huft, mulai darimana ya :")

Oke, jadi ini berawal dari gue yang sok-sokan daftar UKM Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) di kampus gue.
Gue sama temen gue, sebut saja Y, sebenernya udah daftar dari jaman kita maba, tapi udah 2 semester dan belum dipanggil-panggil juga wakakakak.
Suatu hari, Mapala buka pendaftaran lagi, dan daftarlah gue dan Y.

Kenapa gue daftar Mapala?
Listen to me, you.
Gue suka jalan-jalan. Gue suka berpetualang.
Masuk Mapala kampus gue itu jadi salah satu alasan kenapa gue ngincer kampus itu.
Gue udah berkhayal-khayal keseruan apa aja yang nanti bakal gue dapet semisalnya gue udah masuk Mapala.
TAPI TERNYATA SEMUA TAK SEINDAH KHAYAL AQ.

Hari itu, gue dan Y dateng ke pusgiwa buat perkenalan.
Seru, sih. Kakak-kakak pembinanya BAIK-BAIK BGT SUMPAH YA ALLAH.
Terus kita ditanya-tanya gitu kan, nanti mau masuk divisi apa seandainya diterima.
Gue jawab gue mau masuk divisi caving sama arung jeram.
Kedengarannya asik gitu.
Tapi nggak. Nggak segampang itu.

GUE ANAK PALING LEMAH DI ANTARA SEMUA ANAK YANG DAFTAR MAPALA.
Kan tes kekuatan fisik ya di stadium kampus.
Gue endurance-nya yang paling kecil. Yang lain pada lari full, gue lari sambil jalan (?)
Gue push-up dan sit-up yang paling sedikit jumlahnya di antara semua.
GUE GA PERNAH OLAHRAGA SIH HAHAHAH.
Bahkan Y yang bisa dibilang lamban (wkwkkk) hasil endurance-nya lebih tinggi dari gue.
Q hanya bisa tersenyum.

Nah, sebelum resmi jadi anggota, ada beberapa rangkaian yang harus kami ikuti, nih.
Salah satunya adalah naik gunung.
Whoa, kedengarannya seru kan, tuh, naik gunung.
Gue kira gampang aja ya, tinggal naik gunung aja gitu.
Tapi nggak. NGGAK SEGAMPANG ITU BANGKE.

PERSIAPANNYA NGGAK MAIN-MAIN.
Beberapa minggu sebelum naik, tiap minggu musti lari minimal 3 kali, dan itu lari muterin kampus dalam (yang tahu gue ngampus dimana bisa bayanginlah ya seluas apa itu kampus hhh).
Dan, tiap lari, pasti gue urutan paling terakhir. Pasti.
Senior-senior Mapala sampe hapal sama gue astaga wkwkwk. Pasti tiap gue paling terakhir, selalu dikasih semangat, dan mereka pasti nyebut nama gue.
Habis lari musti sit-up, push-up, pull-up, sama planking.
Semua itu dilakuin sore-sore setelah ngampus.
Pokoknya gue udah ngerasain deh tuh gimana rasanya jogging pas gerimis, jogging pake sendal dan celana jeans ngelilingin gymnasium 5 putaran.. mantab dah.

Kebayang kan mampusnya gimana? Bagi gue yang jarang banget olahraga, gue mampus banget, sih. Tau deh buat mereka yang rajin olahraga dan suka naik gunung. Mungkin bagi mereka latihan-latihan kayak gitu udah jadi makanan sehari-hari.
Belum lagi, gue sama sekali nggak punya peralatan hiking, sehingga gue sama teman-teman sekelompok gue (yang hampir semua emang belom pernah hiking juga) musti nyewa banyak peralatan yang harganya lumayan.
Bahkan, kita juga musti bikin laporan persiapan kelompok yang harus dipresentasikan.
Seniat itu, sedetil itu, secapek itu.

Kami juga dapat materi banyaaak banget, kayak cara masang tenda dan packing yang baik dan benar.
Pokoknya nggak boleh tuh, hiking terus makannya mie. Mie tuh dibawa hanya untuk sumpelan tas carrier.
Gue inget banget, sebesar apapun barang yang lo bawa, sebanyak apapun, kalo packing-nya bener, pasti muat deh. Dan, gue baru ngerasain seberat apa itu tas carrier dengan segala isinya. Berat banget, asli, kek bawa tas isinya batu kali.
Isinya emang banyak banget, sih. 3 botol minum 1.5 liter, baju-baju, sleeping bag, kompor, nesting, makanan-makanan, dsb. Belum lagi kalo lo kebagian bawa tenda. Beuh. Packing susah, deh.
Terus pokoknya ngapa-ngapain harus gercep, karena kegercepan amat sangat penting buat situasi yang genting dan nggak terduga pas kita di gunung nanti.

....to be continued to pt. 2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya kecewa -_-

Gue kecewaaaaaaa!!! *nangis darah Sedih, pasrah, melarat...... Q____Q *ditabok sama readers Oke, oke. Alhamdulillah, nggak separah itu kok. Maafkan saya atas kegajean yang terjadi =u=v *peace bro!  Gue kalah dalam lomba gambar... Hiks...

Free Day

Yeaaaah! This is what are anak-anak seantero jagat want... HARI LIBUUUUR! *yaah, nggak semua anak mengaharapkan hari libur siih... #LEBAY AMAT LO!! >:O /PLAK *dilempar sepatu sama orang marah *entah siapa =_= Skip kata-kata weird barusan... Yup. Hari ini, Hari Jum'at, tanggal 13 April 2012, gue dan temen-temen seangkatan gue yang kelas 9 di SMPN xxx (bukan 101010 yak! XD), Jakarta... LIBUUR! Kata guru-guru di sekolahan, kita anak-anak kelas 9 butuh istirahat yang cukup. Otak kita telah dipenuhi puluhan soal 'program latihan menuju UN' (seperti try out). Istirahat sekali-kali kan manjur juga untuk merilekskan diri kita >< Heeem, semoga gue gak terlalu bosen-bosen amat di rumah. Palingan kerjaan gue hari ini adalah mejeng di depan laptop sampe jam 6 sore... *edeh buset =_= Uii, buat lo-lo yang lagi libur pada hari ini, have a happy day! (>3<)~ Jaa~

Nangis

Kenapa ya banyak orang mikir nangis itu sebuah kelemahan?    Padahal nangis itu sebuah reaksi yang wajar, reaksi yang timbul dari sistem saraf kita sebagai makhluk hidup. Reaksi yang menunjukkan kalau kita itu manusia.  Apa karena kalau kita nangis, kalau kita biarin air mata itu menetes, itu berarti kita gagal mengontrol tubuh kita? Berarti kita nggak punya mental yang kuat untuk menghindari atau menghentikan itu? Yang artinya kita lemah?  Menurutku nggak.  Kalau mau nangis, nangis aja. Nangislah sepuas hati. Jangan pernah nahan nangis.    The world is already harsh enough. Be kinder to yourself, and learn to take it easy.   The world stops for no one, but you can take a pause. And press the play button again, when you are ready.